Sisi Gelap dari Hari Black Friday

Black friday memiliki lebih dari sekedar hari Jumat setelah Thanksgiving. Digelarnya black friday menjadi pembukaan musim belanja untuk persiapan Natal dan Tahun baru. Semua orang tentu akan berlomba untuk berburu diskon.

Harga beragam barang kebutuhan natal dan tahun baru akan jauh lebih murah dibandingkan hari biasanya. Meski beberapa produk dijual dengan harga murah, berbelanja di black friday akan membuat Anda boros karena Anda rela kehilangan uang banyak demi diskon yang terlihat besar. Bencana bagi dompet Anda bukan? Namun tidak bagi para pelaku bisnis di bidang ritel.

Sejumlah retailer mengecam konotasi yang terbentuk di black friday. Mereka mencoba mengubah image black friday menjadi sesuatu yang menyenangkan meskipun sering terjadi insiden tidak menyenangkan di hari tersebut. Meski para retailer harus banyak memangkas harga produknya di black friday, yang menurut sebagian orang mereka akan kehilangan keuntungan, namun ternyata tidak.

Mereka akan tetap merasa bahwa penjualan mereka akan meningkat tajam di black friday. Mereka akan mendapatkan omzet yang jauh lebih banyak dibandingkan hari biasanya. Dalam pembukuan pemasukan, biasanya akuntan akan menggunakan tinta hitam sebagai penanda bahwa mereka untung besar. Sedangkan tinta merah digunakan untuk menandai adanya kerugian dari penjualan retail. Di black friday, kebanyakan pembukuan retailer akan tertulis dengan tinta hitam yang menandakan bahwa mereka untung besar. Hal ini sangat menguntungkan ritel dan sektor ekonomi.