Akom Terzalimi karena Papa Novanto Lihai Manfaatkan Situasi

Sports Liputan6 JAKARTA – Pergantian posisi ketua DPR dari Ade Komarudin ke Setya Novanto yang mendapat persetujuan seluruh fraksi di Senayan ternyata justru menyisakan pertanyaan bagi Pemuda Muhammadiyah. Menurut Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak, ada persoalan mendasar pada tergusurnya Ade dan naiknya Novanto. Dahnil mengatakan, Novanto sebenarnya sudah memberikan pendidikan politik yang baik saat mundur dari posisi ketua DPR karena kasus Papa Minta Saham. Namun, kembalinya ketua umum Golkar itu ke posisi ketua DPR dengan menyingkirkan Akom -sapaan Ade- justru telah merobohkan standar moral. “Apa yang sudah dia bangun, dia rusak sendiri. Jadi jatuhnya lebih terpuruk,” kata Dahnil ketika dihubungi wartawan di Jakarta, Rabu (30/11). Menurut Dahnil, hal yang harus diingat bahwa Akom dilengserkan karena dianggap melakukan pelanggaran etika sebagaimana putusan Mahkamah Kehormatan DPR (MKD). Tapi publik tak boleh lupa bahwa Novanto pernah lengser dari kursi ketua DPR karena kasus Papa Minta Saham yang tergolong pelanggaran berat. “Pak Ade dipecat katanya karena etika. Terus apa kabarnya etika di Papa Minta Saham?” ujarnya. Lebih lanjut Dahnil mengatakan, Setnov memang lihai memanfaatkan suasana politik. Posisi Novanto saat ini adalah ketua umum Golkar dan menjadi kekuatan pendukung pemerintah. Di sisi lain, Dahnil melihat Akom juga miskin dukungan politik. “Inilah yang dimanfaatkan oleh Setya Novanto. Dia memanfaatkan ini untuk kembali menjadi ketua DPR,” tutur Dahnil. Lebih lanjut Dahnil menganggap Akom sebenarnya telah dizalimi secara politik. Namun, sambung Dahnil, seorang politikus memang harus siap dengan segala risiko. “Jangan melankolis juga kita melihatnya. Karena faktanya kan mereka sudah siap begitu. Saya pikir Golkar sudah terbiasa dengan cara politik seperti ini,” terangnya. (rmn/indopos/ara/jpnn) 0 share 0 tweet 0 +1

Sumber: JPNN