Luc Heymans, Komandan Perburuan Harta Karun Laut Cirebon Menyelam 22 Ribu Kali Angkat Artefak

Sports Liputan6 SEKITAR 270 ribu artefak yang diangkat dari kedalaman laut Cirebon dilelang di Gedung Mina Bahari III Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta, kemarin. Penyelam arkeolog asal Belgia, Luc Heyman, berperan penting dalam pengangkatan harta karun tersebut. —————————————————– AGUNG PUTU-AGUS WIR, Jakarta —————————————————– TEPAT pukul 14.15, Sekretaris I Panitia Nasional BMKT (Benda asal Muatan Kapal Tenggelam) Sudirman Saad duduk di meja di atas panggung hall lantai 1 bersama perempuan berjilbab. “Dengan ini lelang dibuka untuk umum,” kata perempuan yang ternyata panitia lelang itu lantas mengetukkan palu sekali di atas meja. Tak lama, “Karena tidak ada penawar dalam lelang ini, lelang saya nyatakan ditutup,” sambung perempuan itu. Kemudian, sekali lagi dia mengetukkan palu di meja. Hadirin bertepuk tangan. Setelah ditutup, Menteri KKP Fadel Muhammad, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, serta Sudirman Saad memberikan klarifikasi seputar lelang benda-benda bersejarah tersebut. “Kami akan melapor kepada presiden tentang kegagalan lelang ini,” kata Fadel. Dia juga menjelaskan bahwa proses pengangkatan barang hingga lelang telah memenuhi standar internasional. “Kalau mau jujur, tidak ada ruginya menjual barang ini. Yang berkepentingan justru pemerintah Tiongkok. Ini kan barang-barang mereka,” ujar Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Sempat terjadi insiden kecil ketika Fadel berbicara. Seorang pria bernama Dwi Erlangga menginterupsi dan menolak penjualan benda-benda bersejarah tersebut. Petugas kemudian mengamankan Dwi. Dalam lelang itu, artefak yang diangkat dari bangkai kapal yang diperkirakan tenggelam pada 969 dan 971 tersebut tidak dibawa ke Gedung Mina Bahari III. Tapi, benda-benda itu tetap disimpan di gudang BMKT di Jalan Pajajaran, Tangerang Selatan, Banten. Lelang tersebut tidak dilakukan secara eceran, tapi keseluruhan dengan harga awal USD 80 juta (sekitar Rp 720 miliar). Peserta lelang harus menanam 20 persen dari harga awal, yakni USD 16 juta (sekitar Rp 144 miliar). Sebenarnya pesertanya ada. Tapi, sampai hari pelelangan, tidak ada yang memberikan deposit. Artefak tersebut umumnya berupa porselen dan barang pecah belah. “Saya kira itu barang-barang muatan kapal. Sedangkan (artefak) berupa emas, tasbih logam, dan benda-benda berharga lainnya milik penumpang,” kata Luc Heyman, komandan perburuan harta karun tersebut. “Hal itu terlihat dari penempatannya. Barang berharga diletakkan di bagian belakang dekat tempat penumpang,” lanjut Luc yang ditemui di coffee shop Hotel Mulia, Senayan, Jakarta. Ada gagang pisau bertulisan Arab berlapis emas, koin perunggu, perhiasan, genta, botol, gelas, dan lain-lain. Berdasar koin-koin itulah, kapal diperkirakan karam antara tahun 969 dan 971. Kapal tersebut diprediksi bikinan bangsa Austronesia, yakni masyarakat yang tinggal di Nusantara bagian barat ?Sumatera, Malaysia, Champa (Vietnam), dan kawasan Tiongkok Selatan. “Yang jelas bukan buatan Jawa,” tegas Horst Liebner, staf ahli arkeologi KKP. Sebab, lanjut dia, posisi Jawa saat itu belum signifikan. Indonesia juga belum menjadi jajahan Belanda. Penjajah tersebut baru datang ke Indonesia pada abad ke-16. “Itu dugaan sementara kami. Yang jelas, rute kapal tersebut dari kawasan Tiongkok Selatan menuju kawasan Semarang, Jawa Tengah,” jelas Liebner. Kapal tersebut terdampar di kedalaman 58 meter di bawah laut sekitar Cirebon. PT Paradigma Putra Sejahtera (PPS), perusahaan yang mengantongi izin eksplorasi kapal tenggelam dari KKP, mengevakuasi muatan kapal tersebut ke daratan. Karena tak bisa melakukan sendiri, Presiden Direktur PPS Adi Agung Tirtamarta mengajak Cosmix Archeological Underwater Research and Recovery. Luc Heyman adalah direktur pelaksana Cosmix. Berapa pembagian honor antara PPS dan Cosmix? Luc enggan menjawab. “Itu rahasia. Pokoknya, bagianku lebih banyak dari dia,” ujar Luc sambil menunjuk Adi Agung lantas tertawa lepas. Adi hanya melengos. Pria 53 tahun itu menjelaskan, setidaknya ada dua cara untuk mendeteksi kapal tenggelam. Pertama dengan penelitian dokumen. Sejak era imperialisme, kapal-kapal Eropa punya dokumen keberangkatan dan kedatangan. Jika ada kapal karam, pasti tercatat dalam arsip, lengkap dengan jalur, nama kapal, asal dan tujuan, sampai jenis muatan. “Saya punya rekan yang khusus meneliti itu di Eropa. Sudah 30 tahun dia bekerja dengan kami,” paparnya. Cara kedua adalah by chance. “Bisa juga disebut by accident,” kata Luc lantas terkekeh. Biasanya, yang paling banyak tahu soal itu adalah nelayan. Misalnya, saat menjaring ikan, mereka mendapati jaringnya nyangkut di porselen atau keramik muatan kapal. Para nelayan tersebut biasanya menginformasikan kejadian itu ke pemerintah setempat. Cara itulah yang mengawali perburuan harta karun di Laut Cirebon. Pada 2003, sekelompok nelayan yang melaut di sekitar Cirebon mengalami kesulitan menarik jaringnya. Salah seorang nelayan lantas menyelam dengan peralatan seadanya ke dasar laut. “Ternyata, jaring tersangkut di mangkuk porselen,” ungkap Luc lantas mengembuskan asap rokok putihnya. Nelayan berhasil membawa sejumlah porselen dengan jaring. Namun, mereka tak bisa membawa lebih banyak karena kedalamannya mencapai 58 meter di bawah laut. Menyelam sedalam itu butuh peralatan selam komplet karena tekanan air bisa mengancam nyawa. Para nelayan lantas melaporkan temuan tersebut ke pemerintah setempat yang kemudian diteruskan ke KKP. Mendengar kabar itu, Luc langsung turun bersama sejumlah rekannya. Dia menyewa sebuah kapal nelayan dan berangkat menuju koordinat 05? 14?55″ Lintang Selatan dan 108?58?39″ Bujur Timur dari Jakarta. Perjalanan itu memakan waktu 30 jam. Dengan peralatan selam lengkap, Luc turun ke titik yang disebut nelayan. Benar saja, dia melihat gunungan mangkuk porselen. Panjang gunungan itu mencapai 40 meter dengan lebar sekitar 20 meter. “Dalam istilah kami bukan gunungan, tapi tumulus,” katanya. Luc lantas membawa beberapa porselen ke arkeolog sekaligus melapor ke KKP. Kementerian itu bersama sejumlah kementerian lain lantas menyetujui untuk menggali situs. Sebuah kapal dengan panjang 71 meter buatan Irlandia didatangkan bersama 20 penyelam khusus arkeologi. “Awalnya memang 20 orang dari luar negeri. Tapi, mereka saya minta mengajar tenaga lokal agar bisa menggantikan mereka. Pada akhir penggalian, tinggal lima sampai enam orang, sisanya dari tenaga lokal semua,” katanya. TNI dan Polri ikut mengamankan penyelaman. Penyelaman dilakukan dengan membuat peta imajiner lengkap dengan garis koordinatnya. Peta itu menempatkan tumulus dan perkiraan bagian kapal dilihat dari atas. Tiap kali mengambil porselen, penyelam harus menuliskan dari koordinat mana barang-barang tersebut diambil. “Itu agar bisa diteliti secara ilmiah,” jelasnya. Pengangkatan artefak tersebut dilakukan secara manual dengan alat penarik dari kapal rak per rak. Dua puluh penyelam secara bergilir menyelam selama 22 ribu kali. Dalam usianya yang sudah lebih dari setengah abad, Luc masih tampak sehat dan bugar. Mengenakan kemeja lengan panjang putih dan celana krem dipadu sepatu kulit high ankle. Rambutnya warna perak menipis di bagian tengah. Tubuhnya tegap, kulitnya yang putih tampak lebih cokelat karena terbakar matahari. “I love sea,” ujarnya. “Dia juga cinta laut,” imbuhnya sambil menunjuk Adi Agung. “Love apa?” kata Adi. Luc mengulang kalimatnya secara perlahan kepada lelaki dandy di depannya itu. “Enggak kali. Love woman sih iya. Ini gara-gara kebanyakan di laut, jadinya agak sinting,” ujar Adi sambil memberi tanda dengan jari tangan di dahi. Keduanya kemudian tertawa lepas. Kehidupan pria berkebangsaan Belgia tersebut memang tak bisa dilepaskan dari laut. Pada 1977, dia menjadi atlet profesional lomba balapan kapal keliling dunia. Ketika itu, dia masih berusia 20 tahun. Karena itu, dia akrab dengan banyak jalur pelayaran. Mulai Eropa, benua Amerika, hingga Asia, dan Afrika. “Semua jalur sudah saya jajal,” tegasnya. Pada 1993, bapak empat anak tersebut mulai belajar menyelam sembari terus berlayar keliling dunia. Dia juga sudah coba-coba melakukan penyelaman arkeolog, tapi masih enggan melepas dunia sailing secara keseluruhan. Baru pada usia 40 tahun, Luc benar-benar pensiun dari lomba balap kapal layar. Setelah pensiun dari atlet balap kapal, Luc ingin tantangan baru. Dia kemudian menekuni hobi menyelam sekaligus mempelajari peninggalan-peninggalan arkeologi bawah laut. “Dunia bawah laut menyajikan keindahan yang orang tak banyak tahu,” ungkapnya. Dia lantas bergabung dengan sebuah lembaga penelitian arkeologi bawah laut. Praktik pertama dilakukan di Vietnam pada 1993. Namun, debut penyelaman arkeologi itu tak sukses. Tak banyak temuan di negara komunis tersebut. Apalagi, kondisi ekonomi di negara itu tak terlalu stabil. “Kata temanku di Vietnam, kamu bisa jadi jutawan kalau kamu mau bekerja di sini. Saya jawab tidak. Untuk menjadi jutawan di Vietnam, kamu harus jadi miliarder dulu karena kamu akan kehilangan banyak uang,” katanya lantas terkekeh. Luc menolak disebut pemburu harta karun. Dia lebih sreg disebut penyelam arkeolog. “Orang beranggapan kami ini memburu harta-harta bawah laut dan menjualnya. Memang ada yang dijual untuk membiayai proyek. Ini kan juga ada orientasi penelitian dan kesejarahan,” ungkapnya. Penyelaman arkeologi itu lantas bergeser ke Filipina. Negara pimpinan Gloria Arroyo tersebut punya komitmen tinggi terhadap konservasi benda-benda arkeologi. Hasil temuan pun tidak dilelang. Barang-barang penyelaman itu dibagi 70:30. Pemerintah Filipina mendapatkan bagian lebih banyak. “Pemerintah Filipina sangat menghargai benda-benda arkeologis,” ujarnya lantas tersenyum. Dari ratusan penyelaman di Filipina, tidak semua menghasilkan duit. Umumnya hanya porselen, keramik, dan kapal nonkargo yang karam. Dari sepuluh tahun penyelaman di Filipina, hanya 20 penyelaman yang menghasilkan benda-benda berharga. (*/c5/cfu) 0 share 0 tweet 0 +1

Sumber: JPNN