Menpora Malaysia Berang atas Kerusuhan Sepak Bola

Sports Liputan6 , Kuala Lumpur – Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia Khairy Jamaluddin meminta sanksi berat atas pembakaran satu unit ambulans dan sejumlah polisi yang terluka dalam kerusuhan pendukung sepak bola menyusul kekalahan Terengganu dari Lions XII (Singapura) pada pertandingan semifinal Piala FA, Sabtu lalu. Khairy Jamaluddin meminta Football Association of Malaysia (FAM) atau Persatuan Sepak Bola Malaysia mengambil tindakan segera. “Saya tegaskan bahwa kerusuhan tidak dapat diterima. Mereka yang bertanggung jawab atas kejadian ini tidak dapat beralasan keputusan wasit sebagai penyebab kejadian itu,” katanya seperti dikutip sejumlah surat kabar, Senin, 18 Mei 2015. Kerusuhan pecah menyusul pertikaian pada pertandingan kedua semifinal tersebut. Pertandingan itu berakhir 4-4 setelah pada pertandingan Lions XII di Malaysia kalah 3-2. Para pemain Terengganu berpikir mereka mencetak gol penting pada menit ke-90, yang meloloskan mereka ke babak final. Pada final, Terengganu berjumpa rivalnya, Kelantan. Namun perayaan kemenangan Terengganu terhenti setelah wasit menganulir gol itu dan menyatakan terjadi offside sebelumnya. Paulo Rangel, yang mencetak gol kedua, kemudian dikenai kartu merah karena menendang bola kepada seorang petugas pertandingan akibat frustrasi. Rekannya, Gustavo Lopez, juga dikenai kartu merah karena mendorong wasit, sementara para pendukungnya melempar barang-barang ke lapangan. “Kerusuhan kemudian pecah di luar stadion yang menimbulkan kerusakan fasilitas publik dan sejumlah kendaraan,” demikian dilaporkan media massa lokal. Surat kabar The Malay Mail menyatakan polisi menangkap 25 suporter setelah kejadian itu. “Kami akan menangkap orang lebih banyak lagi setelah kami menyaksikan rekaman video kejadian itu,” kata Kepala Polisi Distrik Terengganu ACP Idris Abdul Rafar. Straits Times Singapura memberitakan tim Lions XII tertahan di dalam stadion selama lima jam karena kekerasan itu. Dua bus pendukungnya juga dirusak. Terengganu, juara kompetisi itu pada 2011, mendesak FAM menyelidiki pembatalan gol pada menit akhir babak kedua tersebut. “Kalau FAM tidak menyelidiki hal itu, saya tidak ragu-ragu meminta tim agar tidak mengikuti turnamen yang akan datang. Hal ini untuk membuktikan bahwa pemain kami tidak dalam posisi offside (sebelum mencetak gol),” tutur Kepala Menteri Terengganu Ahmad Razif Abdul Rahman kepada The Star. | AGUS BAHARUDIN

Sumber: Tempo.co