Optimisme Asing ke Keuangan Syariah di Indonesia Meningkat

Sports Liputan6 Bogor – Kendati pertumbuhan syariah secara global tengah mengalami perlambatan saat ini, namun dalam kondisi ini justru banyak pihak asing yang ingin menanamkan investasinya di keuangan syariah di Indonesia. Hal tersebut dikatakan Direktur Penelitian, Pengembangan, Pengaturan, dan Perizinan Perbankan Syariah Deden Firman H karena secara basis ritel, Indonesia jauh unggul dibandingkan negara lainnya, selain itu potensi infrastruktur juga masih menggiurkan. “Di saat dunia seperti ini ada optimisme dari luar memandang Indonesia untuk mengembangkan keuangan syariah. Bahkan, Uganda, Kazakhstan, Tajikistan, Tanzania, dan Nigeria pernah datang ke Indonesia karena ada sebagian daerah disana yang penduduknya muslim yang mengajukan proposal untuk dirikan bank syariah. OJK juga pernah diundang Jepang untuk memaparkan soal syariah, karena mereka lagi cari alternatif investasi mengingat disana sudah masyarakat aging population. Begitupun dengan Australia,” ujarnya dalam training dan gathering wartawan media keuangan dengan topik Perkembangan Produk, Program, dan Kebijakan Keuangan Syariah di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (12/11). Di perbankan syariah, Deden mengaku banyak strategic investor terutama dari Timur Tengah yang minta bertemu dengan OJK untuk menanyakan bagaimana syarat untuk mendirikan bank di Indonesia. “Malaysia, Kuwait, Qatar, dan Bahrain sudah bertemu dengan kami untuk tanya syarat dirikan bank, mereka ingin jadi strategic investor ,” tukasnya. Keuangan syariah, jelas Deden, mengalami perlambatan pertumbuhan sejak 2013 ketika mencapai 12% dari sebelumnya di 20%, bahkan di 2014 dan 2015 menurun jadi 9% dan 7%. Sementara perbankan syariah nasional juga mengalami perlambatan pertumbuhan sejak 2013 di kisaran 24% dari dua tahun sebelumnya diatas 30%, namun menurun lagi di 2014 dan 2015 jadi 12% dan 9%. Namun, di 2016 mulai mengalami rebound dengan pertumbuhan di Agustus kemarin mencapai 11,3%. “Diawal tahun diprediksi tumbuh 10%, tapi lebih karena ada konversi Bank Aceh Syariah. Hingga akhir tahun jadi targetnya tumbuh 11%-12% seperti target pembiayaan OJK,” katanya. Lebih lanjut, walaupun mengalami perlambatan, namun tetap pertumbuhan perbankan syariah Indonesia tertinggi diantara negara QISMUT (Qatar, Turki, Malaysia, UAE, dan Arab Saudi) di 2010-2014 dengan CAGR 29% berdasarkan Ernst & Young World Islamic Banking Competitiveness Report 2016. Di sisi lain, OJK meminta perbankan yang memiliki unit usaha syariah (UUS) untuk segera membuat roadmap atau rencana kerja untuk mandiri dan memisahkan diri dari induk usahanya (spin off ). Tercatat saat ini, baru ada 13 bank umum syariah (BUS). Sedangkan, 7 bank konvensional dan 14 BPD masih memiliki status UUS. “Perbankan syariah yang miliki UUS wajib lakukan spin off dari induknya pada akhir tahun 2023. Dengan demikian per 1 Januari 2024 semua bank yang memiliki UUS harus spin off . Bisa lewat aset semua dijual ke bank umum syariah lainnya atau spin off . Tapi, jika sudah spin off, tidak boleh spin on masuk lagi jadi konvensional,” kata Deden. Setiap UUS perbankan yang akan spin off diwajibkan memenuhi ketentuan modal minimum sebesar Rp 500 miliar. Namun, tak hanya UUS yang terkena kewajiban modal minimum, bank induknya pun terkena hal serupa dengan ketentuan jumlah penyertaan induk harus sebesar 20% dari modal UUS maka induk harus punya modal lima kalinya yaitu Rp 2,5 triliun. Setelah itu, dalam 10 tahun bank umum syariah (BUS) hasil spin off harus menambah modalnya menjadi Rp 1 triliun, sehingga masuk kategori bank umum kelompok usaha (BUKU) II. Namun, jika sebagian besar BPD yang punya UUS belum memiliki modal Rp 1 triliun, maka muncul beberapa pilihan alternatif spin off UUS BPD. Misalnya konversi atau menjual aset syariah ke bank umum syariah. Sebelumnya, BPD NTB telah memutuskan untuk melakukan konversi menjadi bank syariah dalam rapat umum pemegang saham dan dalam waktu dekat akan membuat sebuah tim konversi. Sementara, UUS BPD Jatim dikabarkan akan melakukan spin off . Lona Olavia/MER Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu