Orkestra Taman Suropati Chamber, Kumpulan Pemusik Pengunjung Taman Urunan Beli Batik untuk Pentas di

Sports Liputan6 BERAWAL dari kumpul-kumpul di taman, sekelompok pemusik menularkan ilmunya kepada pengunjung. Lalu, dibentuklah Taman Suropati Chamber (TSC). Kini kelompok itu bersiap manggung di Istana Negara dan pendirinya diundang ke Amerika. —————————————————– AGUNG PUTU ISKANDAR, Jakarta —————————————————– SAMBIL menyandarkan biola di bahu, belasan anak berkumpul melingkar di samping air mancur sisi barat Taman Suropati, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, pagi Minggu (9/5). Masing-masing menghadap partitur lagu Kawan. Sebuah lagu ciptaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dinyanyikan Sammy Kerispatih. Ngik ngok ngik ngok, anak-anak belasan tahun itu mengulang-ulang sebaris nada. “Ayo, kita coba lagi. Sekarang coba birama empat per empat,” ujar Madong Parhusip, salah seorang instruktur. Kemudian, alunan gesekan biola terdengar bersahut-sahutan. “Reynaldi, perhatikan tempo,” kata pria berambut keriting itu sedikit berteriak ke arah bocah berkacamata. Sebaris nada diulang kembali. Tidak jauh dari kerumunan itu, beberapa orang dewasa membentuk kelompok-kelompok dengan alat musik berbeda. Ada yang khusus gitar, cello, dan biola alto. Tak seperti kelompok yang dinakhodai Madong, jumlah mereka lebih sedikit. Satu instruktur berhadapan dengan dua hingga lima murid. Orkestra TSC memang menggelar latihan rutin setiap Minggu di taman tersebut. Biasanya, latihan berlangsung pukul 10.00 hingga 14.00. Setiap berlatih, anggota dikelompokkan sesuai kemampuan dan jenis alat musik. Ada kelompok bibit, akar, batang, ranting, daun, bunga, dan buah. Semakin menjulang posisinya, semakin jago main musiknya. “Mereka itu anak-anak ranting,” kata Yasmin, salah seorang anggota manajemen TSC, seraya menunjuk kelompok yang dilatih Madong. Setelah beberapa jam berlatih tembang Kawan, tiba-tiba air mancur di samping mereka menyembur. Anak-anak pun bubar teratur. Mereka menghambur menuju barisan orang tua yang duduk di pinggir taman dan sejumlah penjual makanan. “Kalau air mancur hidup, berarti sudah pukul 12.00. Waktunya break sebentar,” kata Yasmin. Lebih lanjut pentolan TSC itu memaparkan, semula tidak ada ide membentuk kelompok musik. Pada 2007, Ages Dwiharjo, suaminya, dan teman-temannya yang juga pemain biola, setiap Minggu mangkal di taman tengah kota Jakarta itu. Mereka bermain sekadar untuk melepas lelah dan berkumpul dengan sesama pemain dan guru musik. Lama-kelamaan, banyak orang tertarik. Sejumlah pemain ikut nimbrung. Nah, sebagian besar pengunjung taman itu adalah anak-anak. Mendengar suara alat gesek itu, mereka tertarik dan ingin bergabung. “Makanya, anggota kita banyak anak-anak,” katanya. Selain itu, anggota datang dari kalangan murid sekolah musik. Di sekolah musik, kata Yasmin, pembelajaran dilakukan dengan cara one on one. Satu guru menangani satu murid. Hal itu membuat mereka jarang bermain dalam kelompok. Padahal, sebagai anggota orkestra, mereka harus terbiasa bermain bersama. Apalagi, yang memainkan biola. “Biola itu kalau dimainin sendiri suaranya nggak enak. Biola baru terdengar enak kalau dimainkan berkelompok,” kata wanita 42 tahun itu. Para siswa sekolah musik, lanjut Yasmin, juga sangat jarang punya kesempatan tampil berkelompok. Mereka harus menunggu sekolahnya mengadakan konser. Itu pun jika mereka terpilih. Siswa yang kemampuannya biasa-biasa saja, baru bisa ikut konser kalau orang tuanya merogoh kocek. TSC memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengaktualisasikan ilmu yang didapat di tempat kursus. Setiap Minggu mereka harus tampil di taman, dilihat banyak orang. “Soal kemampuan, itu nantilah. Yang penting anak-anak tidak demam panggung. Di sini kan dilihatin terus,” kata Alexander, orang tua salah seorang anak pemain TSC. TSC mulai serius dibenahi pada 2008. Ada kepengurusan, keanggotaan, hingga manajemen. Termasuk, mengelompokkan anggota pada kelas-kelas. Mereka juga mulai mengoordinasi instruktur musik untuk melatih anak-anak. Apalagi, para orang tua juga sepakat urunan tiap akhir bulan Rp 150 ribu. Menurut Alexander, iuran itu sangat murah. Di tempat-tempat kursus, paling tidak iurannya Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu per siswa. Itu pun hanya seminggu sekali dengan masa pembelajaran setengah jam. Kalau mau konser, mereka harus membayar lagi. “Kursus tetap ikut, di sini untuk membuat (kemampuan) anak-anak makin terasah,” katanya. Iuran itu, kata Yasmin, untuk operasional bulanan TSC. Jika ada pengeluaran ekstra untuk acara dan momen-momen penting, para orang tua harus urunan lagi. Misalnya, untuk memenuhi undangan Presiden SBY dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) besok. Mereka harus rela patungan untuk membeli batik dan kaus bertulisan Aku Mampu. Rencananya, dress code itu digunakan dalam pergelaran orkestra di Istana Negara. Anggota TSC kini makin variatif. Jika sebelumnya hanya kalangan anak-anak, kini para orang tua yang mengantarkan anaknya bermain musik pun tertarik. Sembari menunggu, mereka belajar musik cello dan biola alto. “Biar nggak kumpul sama anaknya yang main biola. Anaknya entar kan malu,” kata Yasmin lantas tersenyum. Ketekunan Ages dan Yasmin mengelola TSC menuai berkah. Duta Besar Amerika Serikat Cameron R. Hume rupanya sering “menginteli” Ages. Hume memang terkadang sering jalan-jalan di Taman Suropati. Dia kepincut dengan upaya Ages mendampingi anak-anak TSC. Dan, Ages pun diundang ke Amerika selama tiga minggu untuk mengikuti program International Visitor Leadership Program (IVLP). “Suami ditawari Kedutaan Amerika ikut program itu. Sekarang dia sibuk ngurus visa dan administrasi. Makanya, tidak sempat mendampingi anak-anak di sini,” kata Yasmin. Orkestra TSC, lanjut dia, adalah proyek idealis. Karena itu, lagu-lagu yang dimainkan semuanya milik Indonesia. Mulai lagu-lagu daerah hingga lagu ciptaan musikus besar Indonesia bernama Bang Maing. “Bang Maing itu panggilan akrab Ismail Marzuki. Karya-karyanya sering kami mainkan,” ujar wanita berkulit cokelat itu. Bahkan, TSC punya kru untuk memburu lagu daerah yang, kata Yasmin, susah dicari. Sebab, referensi lagu-lagu daerah kini tak banyak berkembang. Padahal, banyak lagu daerah yang berserakan di Indonesia. “Pernah kami ke pemerintah daerahnya, mereka malah tidak tahu,” katanya. Yasmin tak ingin lagu-lagu daerah itu nanti diakui negara lain. Karena itu, dengan memainkannya, lagu-lagu itu dikenal anak-anak. Itu agar mereka tidak lupa dengan akar budaya Indonesia. Selain itu, TSC membuat anak-anak memiliki media bersosialisasi. “Biar anak-anak nggak jadi “autis” main Playstation melulu,” katanya. (*/c2/cfu) 0 share 0 tweet 0 +1

Sumber: JPNN