Perkembangan Asian Games 2018 Dinilai Positif OCA

Sports Liputan6 Jakarta – Laporan Presiden Indonesia Asian Games Organizing Committee (INASGOC), Erick Thohir, terkait perkembangan dan persiapan Asian Games 2018 dapat tanggapan positif dari Executive Board Meeting OCA (Dewan Olimpiade Asia) ke-68 di Da Nang, Vietnam. Rapat dipimpin langsung oleh Presiden OCA, Sheikh Ahmed Al-Fahad Al-Sabah, dan dihadiri dua wakil Presiden OCA, Timothy Fok dan Wei Jizhong, Ketua Komisi Koordinasi OCA Tzunekasu Takeda, serta anggota executive member OCA, termasuk wakil Indonesia, Rita Subowo. Dalam paparannya, Erick menjelaskan detail perkembangan persiapan yang sudah dilakukan Indonesia. Mulai dari perkembangan renovasi kawasan Gelora Bung Karno, jumlah cabang dan nomor pertandingan yang digelar, pembangunan perkampungan atlet di kawasan Kemayoran, Jakarta, dan Jakabaring, Palembang. Laporan juga menyampaikan perkembangan persiapan sistem transportasi di dua kota tersebut yang ditarget selesai awal 2018. Dalam presentasinya, Erick yang juga Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) juga menyampaikan pernyataan optimistis Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, soal kesiapan yang sesuai jadwal untuk penyelenggaraan Asian Games 2018. Menurut Erick, komitmen Indonesia adalah untuk membuat Asian Games 2018 berlangsung sukses dan memuaskan semua negara Asia yang ikut berkompetisi. “Kami tak hanya menyampaikan kemajuan, tapi juga pernyataan keyakinan dan kesiapan dari Presiden Indonesia, Joko Widodo bahwa Indonesia berada dalam jalur yang benar dan terjadwal untuk menyiapkan segala hal agar Asian Games 2018,” ucap Erick dalam keterangannya di depan seluruh Executive Board Meeting OCA, Sabtu (24/9). Dukungan kemajuan kesiapan Indonesia juga disampaikan wakil Indonesia di Executive Member OCA, Rita Subowo, dan Ketua Komisi Koordinasi OCA, Tzunekasu Takeda. Terlebih apa yang disampaikan keduanya saat Coordination Committee (Coorcom) IV di Bali, Mei lalu, sudah banyak yang dilaksanakan pemerintah Indonesia dan INASGOC. Rita dan Takeda juga menyampaikan tantangan krusial yang harus dihadapi Indoensia untuk mempercepat segala persiapan agar tidak mengalami pelambatan. “Selain keputusan soal cabang dan nomor pertandingan agar tidak melebihi Asian Games terakhir di Incheon, INASGOC juga harus menyelesaikan soal kepastian cash flow. “Ini faktor penting agar keyakinan kami terhadap Indonesia semakin besar,” ujar Takeda. Dengan perkembangan mengenai cabang baru di Olimpiade Rio lalu, dan akan dipertandingkan di Olimpiade Tokyo 2020, yakni karate, bisbol/sofbol, skateboard, surfing, dan climbing, Indonesia memiliki opsi untuk tidak harus mementaskan cabang-cabang tersebut. Apalagi sebagai tuan rumah Indonesia sudah memasukkan tiga cabang tambahan, yakni paragliding, jetski, dan bridge. Hal tersebut mendapatkan dukungan dari Sheikh Ahmad Al-Fahad Al-Sabah yang menyatakan tidak mungkin jika harus menunjuk kota baru, seperti Bali hanya untuk mempertandingkan cabang selancar, atau membangun venue baru untuk mengakomodir cabang skate board. “Saya setuju untuk tidak memasukkan cabang-cabang baru di Olimpiade Rio lalu, sebab masíh banyak hal yang harus dilakukan Indonesia untuk kesiapan venue serta infra struktur lainnya, memastikan memiliki cash flow tersendiri, dan juga hal-hal lain yang lebih krusial,” kata Sheikh Ahmad. Hendro D Situmorang/CAH Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu