Tunggal Putri Habis setelah Susi Susanti Pensiun, Mia Audina Menikah

BERITA TERKAIT Serie-A Mulai Tertarik Gelar Boxing Day Nasib Eks Rekan Rio Haryanto di F1 Belum Jelas Karier Anak Schumacher Meningkat Tunjuk Aji Santoso, Kembalikan Spirit Juang Singo Edan INDOPOS.CO.ID- Dalam beberapa tahun terakhir, prestasi pebulutangkis tunggal putri Indonesia terhitung minim jika dibandingkan pebulutangkis tunggal putra. Sejak era Susi Susanti dan Mia Audina, prestasi pebulutangkis tunggal putri Indonesia di ajang internasional terhitung menurun. Hal ini mendapat tanggapan dari legenda bulutangkis putri peraih emas Olimpiade Barcelona, Susi Susanti. Istri Alan Budikusuma tersebut mengatakan bahwa posisi pebulutangkis putri Indonesia saat ini memang berada di bawah pebulutangkis putri dari negara-negara lainnya. “Ibaratnya kita sekarang sedang mengejar. Kalau dulu kita di atas, kita mendahului negara-negara lain. Tapi sekarang kita tertinggal,” ujarnya. Terlebih, ujar Susi, ada era yang terpotong sejak masa ia masih aktif dulu. Sebenarnya, ada Mia Audina yang sempat digadang-gadang bakal menjadi penerus Susi. Namun Mia akhirnya memilih pindah menjadi warga negara Belanda setelah menikah dengan Tylio Lobman. “Sejak era Mia itu, pebulutangkis putri kita seperti tidak memiliki panutan lagi. Jadi ada generasi yang terputus di situ,” sambung Susi. Untuk membentuk era baru bagi pebulutangkis tunggal putri, kata Susi, membutuhkan waktu yang cukup lama dan proses yang berkesinambungan.”Untuk mengejar satu generasi bagi bulutangkis putri itu butuh waktu. Sama seperti Jepang. Jepang hampir 20 tahun di putri tidak ada prestasi, jadi kita butuh proses untuk pembinaan dan pematangan atlit putri,” terang perempuan kelahiran Tasikmalaya tersebut. Selain itu menurut Susi, ada beberapa faktor mengapa pebulutangkis tunggal putri Indonesia juga minim prestasi di kancah Internasional. Di antaranya yakni karena minimnya bibit pemain putri jika dibandingkan pemain putra. “Khusus untuk putri kita tahu yang muncul biasanya selalu satu, satu, satu seperti itu. Tidak seperti bibit pemain putra yang munculnya banyak dalam satu waktu,” sambung perempuan 45 tahun tersebut. Namun Susi enggan menyalahkan minimnya bibit pebulutangkis putri adalah karena sistem pembinaan yang salah. Menurutnya sistem pembinaan dan pembentukan pemain yang dilakukan di Indonesia selama ini sudah dalam trek yang benar. “Sistemnya kan dengan kompetisi. Itu sudah tepat. Dengan kompetisi berkesinambungan kita dapat menjaring bibit putri. Tapi memang yang kurang adalah mempopulerkan bulutangkis ke daerah-daerah,” terang Susi. Selain minimnya bibit pemain putri, Susi juga melihat permasalahan lain. Menurutnya teknik permainan pebulutangkis putri Indonesia juga masih kalah jika dibandingkan pebulutangkis putri dari negara lain. “Basic bulutangkis itu teknik pukulan, feeling dan keahlian. Itu yang terpenting. Memoles teknik itu jadi PR bersama,” tutur ibu dengan dua putra tersebut. Susi menyatakan jika ia sangat optimis pebulutangkis tunggal putri akan bangkit kembali. Ia memprediksi dalam beberapa tahun ke depan, akan muncul pebulutangkis putri yang dapat bersaing di kelas internasional. “Bellaetrix (Bellaetrix Manuputty, red) sudah pernah juara sea games. Waktu Uber Cup pun yang main pemain muda. Meskipun level mereka masih agak sedikit di bawah, tapi dengan jam terbang yang mereka miliki pasti akan meningkatkan performa mereka,” ucap Susi. “Kita memang butuh kerja keras ekstra untuk membangkitkan generasi baru tunggal putri. Jika kompetisi-kompetisi dan pembinaan terus dijalankan, saya yakin dua tiga tahun lagi kita akan punya tunggal putri yang jadi juara dunia,” lanjut Susi. (rah)

Sumber: Indopos