Tangan Bionik Karya 2 Dosen UNS, Canggih nan Terjangkau

Tangan bionik, begitu Ilham Priadythama dan Lobes Herdiman menamai hasil karyanya yang 100 persen menggunakan kandungan lokal. Dua dosen Teknik Industri Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta itu mengembangkan alat bantu prostetik untuk membantu warga kelas menengah ke bawah yang membutuhkan.

Karena menggunakan kandungan lokal, harga tangan bionik mereka relatif terjangkau dibandingkan produk ortopedi impor. Meski begitu, teknologi yang diterapkan terbilang canggih karena menggunakan sensor otot, sehingga penggunaannya hampir menyerupai gerakan tangan walau tak 100 persen.

“Kami melihat jika hampir semua alat bantu ortopedi masih impor sehingga harganya sangat mahal. Peralatan tersebut tidak bisa terjangkau oleh masyarakat, bahkan yang tergolong mampu, apalagi menengah ke bawah. Padahal, pasien yang butuh alat bantu ortopedi paling banyak dari kalangan menengah ke bawah,” kata Lobes, salah seorang dosen peneliti.

Ia mengatakan banyak pasien yang kehilangan anggota tubuh tetapi tidak mampu membeli alat bantu tangan prostetik atau anggota tubuh artifisial. Untuk tangan prostetik yang sederhana dan belum bisa berfungsi seperti tangan bionik saja, harganya mencapai Rp 200 juta.

“Prostetik itu merujuk pada anggota tubuh artifisial yang belum berfungsi, sementara jika disebut bionik maka bisa digerakkan dan difungsikan,” imbuh peneliti Ilham Priadythama.

Mereka mulai meneliti tangan bionik pada 2008, melibatkan pakar ortopedi. Ilham mengemukakan, setiap perkembangan penelitian juga dikonsultasikan pada pakar maupun asosiasi ortopedi agar lebih tepat dalam penggunaan.

Plastik Daur Ulang

Awalnya, tangan bionik mereka menggunakan bahan fiber. Namun karena fiber dinilai terlalu pejal dan susah menyesuaikan bentuk tangan, mereka mengalihkannya ke bahan PLA atau plastik daur ulang. Selain harganya lebih murah, lebih ringan dan awet, PLA juga lebih mudah dibentuk sesuai anatomi tangan manusia.

“Bionic hand yang kami kembangkan sistem geraknya menggunakan sinyal otot sehingga tak perlu pengendalian lain yang menyulitkan pengguna. Ini sangat ringkas dan praktis. Fitur bionic hand ini sudah berkelas dunia,” kata Ilham.

Sebagai pengganti anggota tubuh yang bisa difungsikan gerakannya, tangan bionik itu tidak bisa lepas pakai melainkan harus terpasang pada tubuh. Teknik pemasangan pada tubuh bisa dilakukan oleh dokter bedah tulang karena saat pengembangan, mereka juga berkonsultasi pada ahlinya.

Kendati memiliki berbagai kelebihan, tangan bionik yang mereka kembangkan diklaim memiliki harga yang jauh lebih murah dibanding alat hampir serupa yang ada di pasaran, yakni hampir sepersepuluhnya.

“Di pasaran berkisar 200 jutaan. Yang kami kembangkan biaya produksinya hanya sekitar Rp 20 juta dan jika diproduksi massal bisa ditekan lagi cost-nya,” ungkap Lobes.

Mereka kini terus menyempurnakan tangan bionik tersebut. Selain dikoordinasikan dengan pakar ortopedi dan asosiasi profesi, mereka juga mengikutsertakan karya mereka dalam beberapa pameran riset kelas dunia untuk mengangkat nama UNS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *