Timo Scheunemann: Klub Sepak Bola Tanah Air Belum Dewasa

Hingga pekan ke-11 Liga 1, sudah enam pelatih yang kehilangan jabatannya. Itu artinya secara rata-rata setiap dua pekan terdapat dua pelatih yang kehilangan jabatan, baik yang dipecat maupun mundur.

Bertepatan dengan peringatan hari buruh internasional, Timo Scheunemann memutuskan meletakkan jabatannya sebagai pelatih Persiba Balikpapan.

Di hadapan para pemain di dalam ruang ganti, pria Jerman itu mengumumkan mundur setelah kekalahan tipis 0-1 saat menjamu Arema FC di Stadion Gajayana, Malang, 1 Mei lalu.

Kekalahan beruntun Beruang Madu, julukan Persiba, dalam tiga laga beruntun menjadi penyebabnya.

Sebelumnya, Persiba kalah 0-2 saat menjamu Persija Jakarta di pertandingan pertama dan pulang dengan kepala tertunduk lantaran takluk 1-2 di kandang Perseru Serui di laga berikutnya.

“Saya dipecat oleh manajemen, karena itu mereka meminta saya untuk mundur, dan itu adalah kehendak mereka,” tegas Timo.

“Memang, di Indonesia, tidak ada pelatih yang mundur. Sebab, pengaruh budaya ketimuran saja, sehingga banyak orang tidak tega menggunakan kata dipecat melainkan mundur,” tegasnya.

Dia lantas menjelaskan, keputusan manajemen Persiba yang mendepak dirinya dari kursi pelatih tersebut, adalah wajah asli mayoritas owner klub sepak bola tanah air yang belum dewasa dan siap bertarung dalam industri sepak bola.

Sebab, dengan gampangnya mengganti pelatih, adalah bentuk manajemen menggampangkan sebuah masalah dalam tim.

Sebab, kata dia, ada banyak variabel yang seharusnya dilihat oleh manajemen saat sebuah tim belum mampu memenuhi ekspektasi manajemen atau suporter.

“Sehingga, kalau ada klub yang dengan gampangnya memecat pelatih, itu sama saja mereka mengambaikan kompleksitas masalah dalam tim itu,” papar dia.

Pemecatan pelatih berusia 43 tahun itu, adalah kisah kedua pelatih yang dipecat oleh manajemen.

Sebab, sepekan sebelumnya, Bali United FC lebih dulu mendepak pelatih mereka, Hans Peter Schaller asal Austria.

Sama dengan Timo, Hans dipecat setelah Serdadu Tridatu, julukan Bali United, setelah mengalami dua kekalahan beruntun di pertandingan awal mereka.

CEO Bali United, Yabes Tanuri kepada Jawa Pos mengatakan, Hans dipecat semata-mata karena asas profesionalitas.

“Karena pelatih tidak mampu memenuhi ekspektasi kami. Dan, pemecatan ini sudah sesuai dengan perjanjian dan kesepakatan bersama,” kata Yabes sehari setelah Hans didepak.

Setelah dua pelatih tersebut, empat pelatih lain kembali meragang nasib. Mereka adalah, Laurent Hatton, pelatih asal Prancis yang dipecat oleh manajemen PS TNI.

Kemudian Yusack Sutanto yang diputus kontrak oleh Perseru Serui, serta Liestiadi yang harus mengakhiri karirnya di Persipura Jayapura lebih cepat, plus Osvaldo Lessa yang dipecat manajemen Sriwijaya FC.

Media Oficer Persipura, Bento Madubun mengatakan bahwa, Liestiadi dipecat karena manajemen tidak mau mengambil resiko dengan masa depan tim. Terutama kepercayaan diri pemain di kompetisi.

“Kami juga menerima masukan dari banyak elemen, baik suporter, dan para pengamat sepak bola. Kesimpulannya, Persipura kehilangan karakter,” kata Bento.

Dengan mendepak Liestiadi, Persipura lantas menggandeng pelatih baru asal Brasil, Wanderley Machado Da Silva.

Di tangan dia, manajemen berharap, tim dengan julukan Mutiara Hitam itu bisa bangkit.

“Harapan kami, pelatih baru bisa segera beradaptasi dan mengembalikan karakter permainan Persipura secepatnya,” kata Tommy Benhur Mano, Ketua Umum Persipura.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *